Minggu, 05 Januari 2014

happy new year

selamat tahun baru kekasih hati.
terimakasih untuk semua kebahagiaan.
:') aku sayang kamu

Selasa, 26 November 2013

semalam



Entah ini malam keberapa yang aku habiskan dengan keluh kesah. Dan aku tidak ingat keberapa kalinya aku kembali mematahkan niat kuat sebelumnya untuk berhenti galau. Tapi nyatanya sekarang aku benar-benar menghabiskan malam tanpa sesuatu yang berarti. Begitu banyak alasan yang aku cari. mungkin karena akhir bulan? Uang sakuku tidak lagi banyak?  Apa karena sejak pagi sibuk, dan malam tiba-tiba bebas tugas? Apa karena dikost, aku kangen rumah? Apa karena harus minum obat yang pahit buat sakit mataku? Atau mungkin karena semua itu, ditambah lagi kamu yang meyibukan diri.
Tapi kepedihan malam ini, terasa jelas bersumber dari perasaanku yang tiba-tiba merasa kita begitu jauh. Bukan karena kita tidak lagi merindukan, menyayangi atau mencintai. Tapi lebih sederhana dari itu, jarak secara nyata benar-benar menghalangi kita. Bagaimana aku bisa mengahabiskan malam ini dengan senyum, ketika kamu disana mempunyai masalah, tanpa bisa aku bantu? tanpa tahu, apa yang kamu butuhkan kecuali waktu menenangkan diri.
Sayang, kenapa membuatku menebak-nebak apa yang terjadi? membuat aku benar-benar membenci jarak ini. 

Senin, 04 November 2013

perjalanan

aku sering melakukan sebuah perjalanan pulang ataupun berangkat, 1-2jam aku habiskan berdiam tanpa kata, bergerak menyusuri jalan raya dengan motor kesayangan, jalan yang begitu ramai tapi tak pernah mengajaku berbicara.

tak pernah ada jadwal pasti, sesukaku saja, sesempatku saja. aku pernah pergi pagi sekali, bahkan ketika lampu-lampu sisa malam masih menyala, ketika dingin menembus jaket dan sarung tanganku atau pergi pagi saat jalan penuh sesak dengan anak sekolah, berdesak-desakan mencari jalan dan bersaing jalan dengan pemburu waktu sebelum bel berbunyi,  akupun pernah pergi siang hari, ketika kaca mata hitamku terasa begitu berarti, melawan terik yang seolah melelehkan aspal yang aku lewati, pasti saat itu aku benar-benar mengutuk diriku sendiri, “kenapa tidak pulang nanti saja?kan bisa gosong kulitku”  aku juga pernah melakukan perjalanan sore, ketika semua jajanan sudah terjejer rapih ditepian jalan,ada sate,ada matabak,ada angkringan, lamongan ah semua menyambut malam dengan nikmat. kadang aku mengeluh peluh yang menetes karena hari begitu panas, tapi tidak jarang aku begitu merana ketika basah kuyub diguyur hujan. entah pagi, siang, sore, panas maupun hujan, semua memaksa mulut dibalik kaca helmku terdiam, hampir semua kata-kata kumonolog-kan dipikiranku sendiri.

tapi jangan heran, hal yang menarik yang aku hapal dari perjalanan yang sering kulakukan ini adalah  supir-supir travel dan bus tak akan pernah mengalah, pencari rumput ditepian sawah, lebih ramah dibandingkan bapak berkemeja dibalik stir mobil mewah, bunyi klakson lebih sering terdengar dari mobil-mobil mewah berplat nomor kota-kota besar, dan terkadang ketika hujan mengetuk kaca mobil, wiper dengan cepat membantu sang tuan melihat kembali jalan dengan jelas, disisi lain hujan memaksa beberapa orang untuk memakai jas hujan compang camping karena umurnya yang kelewat lama, beberapa tukang becak hanya berlindung dengan tas plastik yang disulap menjadi topi, atau petani sawah yang tetap bekerja meski hujan begitu lebat. tapi terlalu naif dan egois tulisan ini ketika aku menyudutkan si kaya, apa salah mereka dengan banyak uang? apa yang aku ketahui tentang seberapa keras mereka dalam menjalani hidup hingga ia sukses? tidak ada. tapi bagaimana saat pengendara tua,lusuh dengan motor jadul dan helm jadul yang terkesan miskin dan tidak menyenyam bangku sekolah, lebih tahu rambu lalu lintas dibanding pengendara muda dengan motor dan helm bagus berseragam SMA, entahlah mungkin seharusnya pelajaran rambu lalu lintas tidak diajarkan di Sekolah Dasar saja, atau orang tua sebaiknya memberi anak-anak mereka bukan hanya sepedamotor dan helm saja, tapi juga buku tatatertib lalulintas, sudahlah..aku tahu, kalian mengerti maksudku.

tapi kemarin sore, perjalananku lebih lama dari biasanya. aku harus berhenti, memarkirkan sepedamotorku dengan perasaan pilu disebuah SPBU, menghabiskan sekotak nesface yang aku beli di minimarket tak jauh dari spbu, langit mendung,mungkin tak lama lagi runtuh berubah menjadi hujan.sebenarnya tidak ada urusan aku dispbu itu, aku hanya membutuhkan tempat untuk leluasa berbalas pesan singkat dengan kekasih, nada kami terlalu tinggi, agaknya kami terlalu rindu hingga frustasi dan emosi membayangi kami.
saat itu juga, aku menyaksikan hidupku terlalu sia-sia, aku bahkan merasa begitu merana ketika berbeselisih dengan pacar, iya, hidupku sekedar itu saja.

ketika aku duduk, seorang bapak membawa karung dan bilah besi, mengais-ais tempat sampah, kemudian memungut botol-botol plastik. beliau tidak lagi muda dan sehat, berjalan membungkuk dengan kepala kaku yang tak bisa menoleh, mungkin terjadi sesuatu yang buruk selagi beliau muda. berjalan begitu pelan, dengan kaki yang tua, beralaskan sandal yang tidak sepasang kanankiri,  karena berjalan begitu pelan butuh waktu lebih dari 30menit untuk mengahmpiri sekitar 7 tempat sampah di sudut-sudut spbu itu,tapi tidak banyak plastik yang beliau pungut.
aku tidak bisa menahan air mata ketika, beliau memaksakan berjalan miring agar bisa tersenyum dan berucap ramah “permisi mba” ketika lewat didepanku. saat itu, aku melihat dengan jelas, baju hadiah dari kampanye parpol yang bekuasa diordelama sobek disana-sini, saking lebar sobekan itu, perut dan punggungnya yang kering sampai terlihat.

tapi sungguh, aku berani menebak, beliau tetap pandai bersyukur, atau rajin shalat, aku menebak dari peci yang beliau pakai dan kening yang terlihat begitu hitam, tentu orang miskin  tidak butuh pencitraan,bukan?

aku melihat diriku sendiri, aku memang bukan orang kaya, akupun hanya pengendara sepeda motor, tapi seketika seperti ada cermin yang begitu besar, tidak cukupkah aku dengan sepatu dan sendal yang berjejer dirumah dan kostan yang cukup nyaman tapi kenapa aku begitu merana tidak mempunyai sepatu merk nike,seperti temanku. kenapa aku merasa begitu pedih ketika uangku begitu lama terkumpul membeli iphone/andorid,ketika blackberry sudah digenggamanku, aku tahu aku tidak menginginkan karena membutukannya, aku hanya butuh pengakuan dari kalangan sosial. aku begitu sebal, ketika jadwal kuliahku terlalu padat hingga aku tidak bisa pergi berlibur, aku sering sebal uang sakuku kadang aku belanjakan dengan tidak bijak, aku bahkan sering menangis untuk hidupku yang kurasa begitu malang.

aku kadang tidak menyadari, aku mempunyai kaki,tangan,kepala, dan badan yang begitu normal. aku mempunyai keluarga yang begitu sempurna menyayangiku, aku diberikan teman-teman yang begitu baik menerimaku. astaugfirullah, alhamdulilah, subahanallah. :( kenapa aku begitu sombong dan serakah.

Surah An-Nahl, Verse 4. We are made from dust. How can we be so arrogant?

Minggu, 20 Oktober 2013

Sabtu, 28 September 2013

Jumat, 27 September 2013

hi gendut

sempet baca udah sempet makan belum? buru makan! nasi yaaaa. love you :*